Ballon d'Or 2024 telah menimbulkan perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pakar, karena penghargaan tersebut diberikan kepada penyerang Inggris HarryKane, meskipun kandidat lain, seperti pemain muda Spanyol LamineYamal atau LionelMessi yang legendaris, juga memiliki argumen yang kuat. Juri yang tampaknya lebih mengutamakan karier Kane meraih gelar di Bayern Munich, dituding "tidak berani" mengakui pemain-pemain yang meski belum menjuarai Piala Dunia atau Liga Champions, namun telah meninggalkan jejak signifikan di dunia sepakbola.
Konteks pemilu sangatlah penting. Kane, meski merupakan pencetak gol yang produktif dan memenangkan Sepatu Emas untuk kedua kalinya, tidak berpartisipasi di final Piala Dunia atau Liga Champions, dan timnya, Bayern, berada di peringkat ketiga dan keempat di lima liga besar Eropa. Di sisi lain, LamineYamal, yang baru berusia 16 tahun, sudah menunjukkan bakat luar biasa dan kemampuan memberikan kejutan di setiap pertandingan, meski pengalaman internasionalnya masih terbatas. Messi, meski belum memenangkan Liga Champions atau Piala Dunia musim ini, tetap menjadi tolok ukur performa dan kariernya, dan ketidakhadirannya dalam penghargaan tersebut menuai kritik.
Di bidang perempuan, gala tersebut juga menjadi sumber kontroversi. AlexiaPutellas, dengan Ballon d'Or ketiganya, telah menyamai AitanaGonzález dalam jumlah penghargaan dan telah mewakili karir yang luar biasa. Penampilan mereka musim ini luar biasa, dan tim wanita Barca digambarkan sebagai yang terbaik di dunia, dengan gaya permainan yang menentukan tren. Selain itu, pelatih LuisdelaFuente menerima penghargaan sebagai pelatih terbaik tahun ini, sebuah pengakuan yang dianggap pantas oleh banyak orang setelah kemenangan LuisEnrique di Piala Eropa ketiga.
Kritik utamanya adalah bahwa Ballon d'Or, terlepas dari prestisenya, tampaknya lebih memilih pemain dengan gelar baru daripada menghargai dampak individu dan kualitas permainan. Keputusan untuk memberikan penghargaan kepada Kane, ketimbang Yamal atau Messi, menimbulkan pertanyaan tentang relevansi penghargaan tersebut saat ini. Meski perjalanan Yamal masih panjang, namun bakatnya tidak boleh dijadikan alasan untuk memilih pemenang. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah Ballon d'Or tetap menjadi cerminan akurat dari pemain terbaik dunia atau apakah kriteria pemilihannya perlu dievaluasi ulang.