Napoli menderita kekalahan 2-0 melawan Juventus di matchday 10 Serie A, membuat klub Italia itu hanya memperoleh 14 poin dalam 10 pertandingan, rata-rata 1,40 poin per pertandingan, jauh di bawah ekspektasi tim yang ingin berlaga di Liga Champions. Penampilan tersebut justru menyulut protes suporter dan mengawali proses tanggung jawab terhadap pelatih Max Allegri, dengan tiga tuduhan utama dan tiga tesis pembelaan.
Tuduhan pertama berkaitan dengan hasil. Dengan poin yang sedikit dan sedikit kemenangan, Napoli nampaknya belum bisa mencapai targetnya, apalagi mengingat tahun sebelumnya klub tersebut berada di posisi kedua dan sempat meraih scudetto. Kurangnya kesuksesan di lapangan dipandang sebagai tanda kegagalan proyek Allegri. Tuduhan kedua berfokus pada permainan: meski dalam beberapa fase tim menampilkan sepak bola menyerang yang brilian, namun gaya keseluruhannya dinilai jauh dari ideal yang diusung sang pelatih sendiri. Terakhir, tuduhan ketiga berkaitan dengan cedera: banyak dan terkadang serius, hal ini menghalangi Napoli untuk memaksimalkan pemainnya.
Allegri, pada bagiannya, menyampaikan tiga tesis pembelaan. Pertama, ia menunjukkan bahwa sebagian besar cedera bersifat traumatis, sehingga sebagian kesalahan ditimpakan pada nasib buruk. Ia juga menggarisbawahi bahwa, dalam sepuluh pertandingan pertama liga, semua tim yang lolos ke Liga Champions mengalami cedera serupa, menunjukkan bahwa situasi tersebut tidak hanya terjadi pada Napoli. Yang terakhir, hal ini menyoroti kurangnya aktifnya bursa transfer musim panas: satu-satunya akuisisi signifikan yang dilakukan adalah Badiashile, sementara Favasuli adalah satu-satunya pendatang baru, yang menunjukkan bahwa kurangnya rekrutan telah berdampak negatif terhadap kinerja tim.
Uji coba melawan Allegri bukan hanya soal hasil, tapi juga manajemen grup dan sumber daya. Dengan musim yang masih berlangsung, Napoli harus menghadapi konsekuensi dari krisis ini, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pertandingan berikutnya akan menjadi penentu untuk memahami apakah pelatih mampu membalikkan tren dan apakah manajemen mampu menemukan solusi untuk membawa tim kembali ke tingkat daya saing yang diharapkan.