Juventus mendapat pukulan telak di Genoa, di mana tim asuhan Spalletti menunjukkan kurangnya keinginan dan pengorbanan yang mendorong sang pelatih untuk memikirkan masa depan klub. Hasil akhir, 2-0 untuk keunggulan Genoa, dibarengi dengan analisis kritis terhadap penampilan para pemain Juventus dan pernyataan bahwa sepak bola Serie A harus didasarkan pada duel individu dan pendekatan yang lebih agresif, seperti yang beberapa kali digarisbawahi oleh Spalletti.
Konteks pertandingan ditandai dengan banyaknya pemain yang absen: Locatelli, Thuram, Yildiz, Grabara, Celik, Ekhator, Nico Gonzalez dan Conceiçao, yang membuat tim berada dalam posisi kurang beruntung. Juventus harus menghadapi kalender yang padat, dengan 95 menit Liga Europa melawan Rennes, kekalahan melawan Lazio dan pertandingan di Vigo, tanpa kemungkinan rotasi. Upaya ini mempengaruhi kualitas permainan, dengan pertahanan yang kebobolan dua gol dalam beberapa menit dan satu pelanggaran di 45 menit pertama, sebuah fakta yang membuat kagum para fans dan manajer.
Spalletti mengungkapkan kekecewaannya atas kurangnya kesadaran di lapangan, menyoroti bagaimana tim tidak merespons tekanan dan hanya menunjukkan sedikit jiwa dan karakter. Ucapan Bremer yang mengejutkan media juga dimaknai sebagai tanda kesulitan di tingkat kepemimpinan. Sang pelatih menyatakan bahwa Juventus harus mencari soliditas, kekompakan dan reaksi, dan analisis emosional tidak bisa mengabaikan angka-angka. Kinerja tim dinilai secara kritis, dengan hasil yang mengecewakan selama setahun mulai menunjukkan kemunduran klub yang sebenarnya.
Masa depan Juventus tampak tidak pasti, dengan Spalletti harus mengambil keputusan penting mengenai komposisi tim. Manajemen klub kecewa dengan performa dan kurangnya motivasi yang ditunjukkan di lapangan. Sang pelatih menyatakan perlunya meninjau kembali mentalitas para pemain dan menerapkan pendekatan yang lebih agresif dan kompetitif. Tim harus menghadapi tantangan berikutnya dengan visi baru, berusaha mendapatkan kembali kepercayaan para penggemar dan kembali bersaing di level tertinggi.
