Di fase terakhir Liga Champions, Atlético Madrid kembali menjadi protagonis kontroversi yang mengguncang suporter Merah Putih: pembatalan gol oleh VAR. Insiden tersebut terjadi selama pertandingan melawan Manchester United, ketika striker Amerika Johnny Cardoso mencetak gol pertamanya musim ini hanya untuk melihatnya dihapus oleh wasit sebelum jeda setelah tinjauan video wasit. Keputusan tersebut didasarkan pada fakta bahwa Marcos Llorente pernah menerima handball sebelumnya sebelum rebound yang memungkinkan terciptanya assist yang berujung pada tembakan Cardoso.
Kasus ini tidak terisolasi. Menurut analis Alexis Martín, Atlético adalah tim kedua dengan gol terbanyak yang dianulir oleh VAR sejak diperkenalkannya teknologi tersebut di Liga Champions. Hanya PSG yang mengungguli klub Madrid itu dengan sembilan gol dianulir, sedangkan Bayern punya delapan gol, sama seperti Atlético. Manchester City dan Real Madrid berbagi posisi kelima dengan masing-masing tujuh gol. Di sisi lain, Barcelona mendapat keuntungan paling besar, dengan sebelas gol dianulir melawan rival mereka, diikuti oleh Bayern dan Sporting de Portugal dengan masing-masing tujuh gol, dan Swiss Young Boys dengan enam gol.
Daftar gol yang dianulir melawan Atlético di Liga Champions dimulai pada musim 2018-19, ketika pertandingan melawan Juventus menampilkan Álvaro Morata mencetak gol setelah pelanggaran oleh Chiellini yang memberinya keuntungan yang tidak semestinya. Musim berikutnya, gol Luis Suárez ke gawang Liverpool dianulir karena posisi offside, dan pada 2020-21 kesalahan offside yang sama terjadi saat melawan Lokomotiv Moscow. Pada musim 2021‑22, gol Antoine Griezmann ke gawang Porto dibatalkan karena handball yang tidak disengaja sebelum tembakan, dan pada 22‑23 gol Koke ke gawang Porto dianulir karena offside. Pada musim 2023-24, gol Samu Lino ke gawang Lazio dan gol Morata ke gawang Inter Milan juga dianulir karena offside dan pelanggaran pelanggaran sebelumnya.
Pola disallowance gol telah menimbulkan perdebatan sengit di kalangan pendukung Atlético, yang meyakini bahwa VAR berdampak negatif terhadap performa tim. Sementara itu, klub terus bersaing dengan intensitas yang sama, berusaha untuk maju dalam kompetisi meski ada kontroversi. Pertandingan Atlético berikutnya di Liga Champions akan menjadi sangat penting dalam menentukan apakah tim dapat mengatasi rentetan gol yang dianulir dan terus melaju di babak penyisihan grup dan seterusnya.
