Kemenangan Bologna 4-2 melawan Milan, yang dimainkan pada Minggu malam di San Siro, merupakan episode paling penting musim ini bagi klub rossoblù. Kekalahan, di mana Milan kehilangan dua gol dalam setengah jam terakhir, tidak hanya menyoroti kesulitan taktis tetapi juga kerapuhan fisik grup, terutama di periode krusial kompetisi.
Pelatih asal Brazil JorgeAmorim harus menghadapi "selimut yang sangat singkat" dari cederanya: banyak pemain kunci yang absen dalam waktu lama, dan ditambah lagi dengan masalah kesehatan yang memaksa pelatih untuk membuat pilihan yang bijaksana. Di antara pemain yang cedera adalah Gila, Rabiot, dan Moreira yang tidak diturunkan untuk laga melawan Bologna. Absennya para starter tersebut membuat Milan dirugikan terutama di lini pertahanan, dimana minimnya pilar seperti Tomori berdampak buruk pada hasil akhir.
Di lapangan, tim asuhan Amorim menunjukkan kondisi fisik dan mental yang baik, namun keputusan taktis gagal mengimbangi hilangnya sumber daya utama. Masuknya Modric ke lini tengah dan keluarnya Musah dari lini pertahanan ditafsirkan sebagai "aksi strategis", tetapi tidak memberikan efek yang diinginkan. Bologna, yang dipimpin oleh Palladino, memanfaatkan situasi ini sebaik-baiknya, mengorganisir serangkaian serangan yang menyoroti kerapuhan pertahanan Milan, khususnya menyerahnya Estupinian dan kelemahan Diawara.
Amorim menjelaskan, keputusan tidak menurunkan Gila, Rabiot, dan Moreira dilatarbelakangi keinginan menghemat tenaga untuk laga derby akhir pekan nanti. Namun, pilihan ini dikritik karena mengabaikan masa kini demi masa depan yang bersifat hipotetis. Sang manajer juga menggarisbawahi bahwa pembangunan skuad di musim panas adalah “dangkal”, namun menegaskan kembali bahwa tidak mungkin melakukan semuanya di satu pasar.
Hasil Bologna berdampak langsung pada tabel liga: Milan kehilangan tujuh poin dibandingkan pemuncak klasemen, sehingga mengurangi prospek pemulihan mereka. Analisis Amorim menunjukkan bahwa, meskipun tim telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, kurangnya kedalaman skuad dan frekuensi cedera otot berdampak negatif terhadap kinerja.
Menjelang pertandingan berikutnya, Milan harus menghadapi tantangan untuk mengembalikan pemain yang cedera ke lapangan dan menemukan keseimbangan antara kebutuhan untuk memulihkan poin dan mengelola kelelahan. Bologna, sebaliknya, akan bisa mengandalkan tim yang bugar dan termotivasi, siap mengeksploitasi kelemahan rivalnya di pertandingan berikutnya.
