Fiorentina kalah 2-1 dari Inter di San Siro, namun kekalahan mereka diiringi dengan protes yang lebih luas: pendukung Florentine memutuskan untuk tidak menghadiri pertandingan tandang, sementara beberapa masih melakukan perjalanan ke Milan untuk menunjukkan perbedaan pendapat mereka. Isyarat tersebut disertai dengan spanduk yang dipajang di luar markas Lega Calcio Serie A, di via Rosellini, yang bertuliskan kalimat “Sepak bola ini bukan milik kami”. Inisiatif ini diluncurkan dalam konteks protes yang lebih luas oleh ultras Italia terhadap tingginya harga tiket dan pembatasan yang diberlakukan oleh Kementerian Dalam Negeri.
Sektor tandang Fiorentina tiba di lapangan dengan Curva Fiesole, bagian paling aktif dari fans Florentine, benar-benar kosong. Keputusan untuk tidak hadir diambil sejalan dengan kampanye ultras yang menyerukan perjalanan "gratis" dan penurunan harga tiket. Meskipun demikian, banyak fans yang tetap datang ke Milan untuk mendukung tim, menunjukkan ikatan yang kuat dengan Fiorentina dan keinginan untuk membuat suara mereka didengar.
Pesan dalam spanduk yang dimuat laman resmi Curva Fiesole di Instagram itu tidak mengacu pada perselisihan sembarangan, melainkan hanya berfokus pada topik harga dan pembatasan. Judul postingan tersebut menyoroti permintaan "perjalanan gratis", yang menggarisbawahi rasa frustrasi ultras terhadap kebijakan tiket dan pembatasan akses ke pengadilan.
Laga tersebut, meski diwarnai kekalahan, namun menampilkan pertarungan Fiorentina dengan penuh determinasi. Inter menyamakan kedudukan melalui gol Dzeko dan kemudian menutup skor melalui gol Lautaro Martinez. Meski kalah, Fiorentina tetap kompetitif di klasemen liga, namun protes di dalam dan di luar lapangan menyoroti meningkatnya ketegangan antara penggemar, klub, dan pihak berwenang.
Langkah selanjutnya bagi Lega Calcio adalah menanggapi permintaan ultras. Jika protes semakin intensif, klub akan dihadapkan pada kemungkinan gangguan lebih lanjut selama perjalanan. Bagi Fiorentina, tantangannya tetap menjaga motivasi para pemain dan suporter, berusaha mengubah rasa frustrasi menjadi energi positif untuk pertandingan berikutnya.