OM bersiap menghadapi Angers hari Minggu ini pukul 3 sore, namun pertemuan tersebut sudah diwarnai dengan kontroversi besar: klub Angers telah memutuskan untuk tidak menampilkan pemainnya selama konferensi pers pra-pertandingan. Tindakan ini, yang diumumkan pada malam pidato tradisional, mewajibkan pelatih Stéphane Gilli untuk berbicara sendirian di depan media, tanpa kehadiran stafnya.
Keputusan itu diambil karena OM baru saja menderita kekalahan 0-1 melawan Olympiakos di Liga Europa, yang membuat klub berada dalam suasana ragu. Suporter dan jurnalis bertanya-tanya apakah kebijakan baru Angers ini bisa mempengaruhi suasana pertandingan. Hingga saat ini, kehadiran pemain dalam konferensi pers merupakan praktik standar di Ligue1, meski PSG sudah melakukan pendekatan serupa. Minimnya penjelasan dari pihak klub memicu ketidakpahaman dan menyulut kemarahan jurnalis lokal.
Persatuan Jurnalis Olahraga di Perancis (UJSF) bereaksi cepat, menerbitkan siaran pers yang mengecam keputusan Angers. “Dengan menentang penggunaan dan perlunya liputan media terhadap Ligue1, klub Angers memilih untuk tidak lagi menghadirkan pemain pada konferensi pers pra-pertandingan,” kata serikat pekerja. UJSF menekankan bahwa tindakan ini mencegah jurnalis mengajukan pertanyaan langsung kepada para pemain dan meliput tim secara memadai. Serikat pekerja juga mengingatkan bahwa SCO tidak mendapatkan keuntungan dari paparan berlebihan di media nasional yang dapat membenarkan pembatasan tersebut.
Siaran pers UJSF juga menyebutkan kesulitan kolaborasi antara klub dan jurnalis Angevin selama beberapa bulan. “Kami telah lama menyesalkan kurangnya kerja sama dari klub,” tambah serikat pekerja, yang menyerukan Liga Sepak Bola Profesional untuk menjamin akses jurnalis terhadap pemain-pemain di kejuaraan tersebut. Menurut UJSF, konferensi pers penting untuk mengumpulkan reaksi pemain dan melaporkan kehidupan tim.
Sementara OM berupaya untuk berkonsentrasi pada bidang olahraga setelah kekalahannya di Eropa, keputusan Angers telah menempatkan pertemuan tersebut dalam sorotan. Masih harus dilihat apakah klub akan mempertahankan kebijakan ini dalam konferensi pers di masa depan atau akan membalikkan posisinya. Sementara itu, UJSF dengan jelas menyatakan penolakannya, membuka perdebatan yang lebih luas mengenai hubungan antara klub-klub Ligue1 dan media yang bertanggung jawab untuk meliput mereka.
