Keseluruhan musim Inter terbukti menjadi serangkaian kekalahan tak terduga, dan derby melawan Lazio merupakan yang terbaru dari serangkaian hasil mengecewakan yang panjang. Tim asuhan Simone Inzaghi, yang gagal bangkit sejak awal, kehilangan keunggulan 2-0, mengakhiri serangkaian penampilan di mana kualitas pertahanan terus menurun. Hasil ini semakin diperburuk dengan masalah ofensif yang hingga saat itu disembunyikan oleh penampilan Lautaro yang kini cedera.
Masalah paling kentara adalah minimnya gelandang serang. Pelatih Chivu memutuskan untuk menurunkan Marcus Thuram sebagai satu-satunya penyerang di lapangan, membenarkan pilihan tersebut dengan kondisi Pio Esposito dan Bonny yang kurang optimal, keduanya sedang dalam masa pemulihan. Namun, absennya pemain yang mampu menghubungkan lini tengah dengan serangan membuat tim rentan. Pilihan untuk menempatkan Sucic dan Diouf sebagai gelandang serang tidak membuahkan hasil yang diinginkan, dan pertandingan berakhir dengan posisi tim Nerazzurri dalam posisi kurang menguntungkan.
Situasi semakin diperumit dengan kurangnya sumber daya di lini tengah. Inter masih memiliki 50% minat menjual kembali Davide Frattesi di masa depan, tetapi tim tampaknya belum menemukan pengganti yang cocok untuk peran gelandang serang. Minimnya pemain yang mampu menjalankan tugas menyerang membuat para pendukung tidak puas, apalagi mengingat lini tengah, jika bukan Calhanoglu, gagal mencapai level yang diharapkan.
Jumlah gol tim saat ini mencerminkan kesulitan ofensif. Calhanoglu menjadi satu-satunya pemain yang mencetak tiga gol, disusul Zielinski dengan dua gol, sementara Barella dan Sucic masih menunggu untuk mencetak gol pertamanya. Data ini kembali mengangkat kasus Frattesi ke permukaan, dan banyak yang bertanya-tanya apakah Giuseppe Marotta, mantan pelatih tim, masih bersedia menjual sang pemain ke Lazio hanya dengan harga 15 juta euro.
Masa depan Inter masih belum pasti. Dengan tim yang terus bersaing memperebutkan gelar dan berusaha mendapatkan kembali performanya, manajemen lini tengah tetap menjadi perhatian utama. Jika tim dapat menemukan solusi untuk peran gelandang serang, maka performa ofensifnya dapat meningkat secara signifikan. Sementara itu, para penggemar dibiarkan menunggu untuk melihat apakah manajemen klub mampu mengatasi kekurangan di departemen pusat dan membawa tim kembali ke level kompetisi yang mereka harapkan.