Manchester United berada dalam situasi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya: delapan pertandingan terakhir tanpa kemenangan, dengan tim menempati posisi keenam belas di Liga Premier dan menderita dua kekalahan di Liga Champions. Manajer Inggris Michael Carrick, yang memimpin Setan Merah menang 3-0 melawan Bournemouth, mengatakan dia merasa "putus asa" dan tidak pernah berpikir untuk meninggalkan tim.
Carrick memulai wawancaranya dengan mengomentari keputusan wasit: dia mengkritik kurangnya penalti terhadap Leny Yoro dan membela gelandang muda tersebut, dengan menyatakan bahwa kesalahan tersebut tidak pantas mendapatkan hukuman. Ia kemudian mengungkapkan rasa frustrasinya atas kekalahan tersebut, seraya menegaskan bahwa para suporter berharap bisa mencetak gol di babak kedua, namun tim gagal menemukan momen krusial tersebut. “Itu adalah cara yang buruk untuk mengakhiri pertandingan,” tambahnya, menyoroti sulitnya menjalani hari seperti itu di klub bergengsi.
Sang pelatih juga berbicara tentang peran Bruno Fernandes, yang tetap berada di bangku cadangan sepanjang pertandingan setelah pernyataannya baru-baru ini melawan Como. Carrick menjelaskan bahwa keputusan yang diambil hari ini diperlukan, namun mengakui sulitnya mengelola tekanan dari para penggemar.
Meski ada spekulasi tentang kemungkinan kepergiannya, Carrick membantah ingin meninggalkan tim. Dia mengatakan dia memiliki “perasaan campur aduk” dan “sulit” melihat tim melewati fase ini. Dia menegaskan kembali dedikasinya kepada klub, menyatakan bahwa dia akan terus memberikan segalanya dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah "menunggu dan melihat".
Dengan musim yang masih berjalan, masa depan Manchester United masih belum pasti. Klub harus menghadapi tantangan berikutnya baik di Liga Premier dan Liga Champions, mencoba membalikkan rangkaian hasil mengecewakan. Meski mendapat tekanan berat, Carrick menyatakan tak ingin mengubah komitmennya kepada klub sehingga membuka kemungkinan babak baru bagi Setan Merah.