Barcelona mengukuhkan dominasinya musim ini dengan kemenangan 5-2 atas Galatasaray, yang terakhir dari 10 kemenangan tanpa kekalahan. Hasil ini, yang merupakan kedelapan musim ini, memperkuat pernyataan presiden Joan Laporta bahwa tim Barca adalah “tim yang memainkan sepak bola terbaik di dunia.” Dengan 43 gol dalam 10 pertandingan, Barca mempertahankan rata-rata 4,3 gol per pertandingan, bahkan melampaui rekor 190 gol pada musim 2011-12 di bawah asuhan Pep Guardiola dan Messi.
Kembalinya pertandingan merupakan tipikal klub: setelah kebobolan gol Turki, tim bereaksi dengan cepat dan penuh wibawa, seperti pada pertandingan sebelumnya melawan Rayo Vallecano dan Sevilla. Serangan yang dipimpin oleh pemain serba bisa seperti Raphinha, Olmo dan LamineYamal menunjukkan kapasitas mencetak gol yang tak pernah terpuaskan. Yamal, khususnya, tampil menonjol dengan dua assist dan dribel rabona yang membuat pertahanan Turki tidak dapat membalas, menunjukkan potensinya untuk menjadi ancaman terus-menerus.
Di lini pertahanan, pelatih HansiFlick memanfaatkan keserbagunaan para pemainnya, menempatkan Cancelo sebagai bek kiri dan menyesuaikan posisi Gordon, Adeyemi, Fermín dan Lamine untuk memaksimalkan efektivitas mereka. Chemistry antara Cancelo dan Gordon di kiri, serta antara Eric dan Lamine di kanan, menjadi kunci alur ofensif tim, sementara kehadiran Pedri dan Rodri di tengah lapangan memberikan kontrol dan vertikalitas, menjadikan mereka mesin “ruang mesin” klub.
Suasana nyaman di ruang ganti juga berkontribusi pada performanya. Para pemain, tanpa sosok dominan, menjalankan perannya dengan disiplin dan saling mendukung, hal yang dianggap penting oleh klub sejak era Messi. Dengan Liga Champions dan Liga yang dipertaruhkan, Barcelona mempertahankan posisinya sebagai favorit, dan harapannya adalah mereka akan melanjutkan rekor mencetak gol dan dominasinya di pertandingan-pertandingan mendatang.
