Fans berbaris di jalanan Anfield untuk mengantisipasi bus tim Manchester City, mengubah suasana pra-pertandingan menjadi tontonan yang seru. Kembang api, spanduk, dan nyanyian dari kedua belah pihak memenuhi udara ketika para pendukung mencoba untuk melihat sekilas tim tamu. Pelatih City berhasil menyelinap ke dalam stadion dari sisi berlawanan, menghindari potensi konfrontasi yang bisa meningkat menjadi insiden besar-besaran.
Ketegangan ini berasal dari persaingan lama antara Liverpool dan Manchester City, yang semakin intensif setelah pengambilalihan City oleh Sheikh Mansour pada tahun 2008. Sejak itu, Liverpool berada di urutan kedua di belakang rival mereka dalam tiga kesempatan, sebuah fakta yang memicu tuduhan bahwa keunggulan finansial City telah melemahkan persaingan. Pada tahun 2018, pendukung Liverpool meluncurkan rudal ke bus tim City selama pertandingan Liga Champions, yang menyebabkan tindakan keras polisi. Putusan bersalah komisi independen atas pelanggaran keuangan City semakin memperdalam permusuhan, dengan para pendukung menjual bendera “Guilty 114” dan spanduk “Cheats” dengan gaya logo Oasis di kios-kios di luar lapangan.
Meskipun ada permusuhan, seorang pendukung City yang mengenakan seragam biru langit berdiri di tengah lautan merah, tidak terpengaruh oleh kekacauan di sekitarnya. Media sosial ramai dengan seruan untuk “salam bus” di Jalan Anfield, dan polisi sangat waspada terhadap eskalasi apa pun. Pendukung tandang meneriakkan “City akan jatuh dengan satu miliar di bank” sambil melambaikan pisang tiup, sebuah tradisi yang dimulai pada tahun 1980an yang mengingatkan para penggemar akan sejarah 114 tahun City sebelum era Sheikh Mansour.
Polisi mengerahkan drone untuk memantau rute yang akan diambil bus Kota dan menjaga kehadirannya sepanjang hari. Bus resmi tim, yang diberi corak lengkap, memasuki stadion dari sisi lain Jalan Anfield dan mengitari bagian belakang tribun yang menyandang namanya, menghindari konfrontasi apa pun. Bus Liverpool tiba diiringi sorak-sorai, nyanyian dan kepulan asap merah sebelum jam 3 sore, dengan polisi mengawal para pendukung yang berkunjung melintasi Stanley Park. Meski mendapat cemoohan ringan dari pendukung tuan rumah, kedatangannya berlalu tanpa insiden.
Ketika para pemain City berjalan ke lapangan untuk melakukan pemanasan, mereka disambut dengan ejekan dari mayoritas penonton, dengan nama setiap pemain dipanggil di sistem alamat publik. Namun, pisang tiup di ujung tandang memantul di sudut kecil, menambah sentuhan kesembronoan pada adegan yang menegangkan. Pertandingan itu sendiri memperlihatkan City mendominasi, akhirnya menang 3-0 dan membungkam pendukung tuan rumah. Kemenangan ini memungkinkan City untuk mempertahankan keunggulan mereka di puncak klasemen Liga Premier, meskipun posisi masa depan mereka masih belum pasti sambil menunggu hasil dari kemungkinan sanksi.
Peristiwa hari itu menyoroti kesenjangan yang mendalam antara kedua klub, kebencian yang masih ada atas keuntungan finansial City, dan kemampuan para penggemar untuk mengubah pertandingan menjadi tontonan yang sangat menarik. Seiring berjalannya musim, kedua klub harus menghadapi dampak dari pertemuan ini sambil mempersiapkan tantangan ke depan.
