Ballon d'Or telah mengumumkan pelatih-pelatih terbaiknya dari musim lalu, dengan Luis de la Fuente dan Pere Romeu membawa pulang Trofi Johan Cruyff yang bergengsi. Upacara yang diadakan di teater Paladium London ini dihadiri oleh Rafa Benítez yang menyerahkan penghargaan kepada kedua teknisi tersebut. De la Fuente yang membawa Timnas Spanyol meraih kemenangan di Piala Dunia 2022 menjadi penerus Luis Enrique yang meraih penghargaan tersebut pada musim sebelumnya setelah membawa Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions pertamanya. Pada tahun 2024, gelar tersebut telah diklaim oleh Carlo Ancelotti setelah menjuarai Liga Champions bersama Real Madrid.
Sementara itu, Pere Romeu menjadi pelatih Barcelona pertama yang menerima pengakuan individu sebesar ini. Berbeda dengan pendahulunya, seperti Lluís Cortés dan Jonatan Giráldez yang tidak memperoleh penghargaan meski menjuarai Liga Champions, Romeu berhasil menonjol dalam pemungutan suara. Kemenangan ini menandai ketiga kalinya Ballon d'Or menganugerahkan penghargaan Pelatih Terbaik kategori putri. Pada tahun 2024, penghargaan diberikan kepada Emma Hayes, pelatih Chelsea, yang mengalahkan Giráldez dan Sarina Wiegman. Hayes yang kini melatih Timnas Amerika Serikat meninggalkan waktunya di London setelah menutup kariernya sebagai pelatih Chelsea.
Sarina Wiegman, lahir di Belanda dan menjadi pelatih Inggris saat ini, adalah pemenang penghargaan pada tahun 2025 setelah memimpin timnya ke Kejuaraan Eropa. Rekam jejaknya mencakup lima penghargaan The Best, yang menegaskan konsistensi dan kesuksesannya selama bertahun-tahun. Pengakuan Wiegman memperkuat kehadiran pelatih wanita di jajaran elit sepak bola dunia, seiring dengan kemenangan Romeu baru-baru ini dan pengaruh Luis de la Fuente yang terus berlanjut di kancah internasional.
Dengan hasil tersebut, lanskap sepak bola terus menunjukkan pentingnya manajemen taktis dan kemampuan kepemimpinan dalam tim nasional dan klub. Pelatih pemenang penghargaan telah menunjukkan bahwa kombinasi pengalaman, hasil di turnamen internasional, dan kemampuan memotivasi pemainnya merupakan faktor kunci dalam mencapai kesuksesan. Musim depan menjanjikan kejutan baru, karena peraih Ballon d'Or dan Piala Johan Cruyff akan terus menjadi referensi bagi generasi mendatang para pelatih baik gender.